
Aksi Kamisan kembali digelar di Taman Apsari dan sebagai media doa bersama untuk korban dan aktivis yang gugur dan ditangkap oleh negara, khususnya pada kasus yang terjadi pada bulan September di Indonesia.
Retorika.id- Aksi Kamisan ke-876 yang bertemakan “Doa Bersama untuk Korban yang Gugur di Medan Juang dan Solidaritas untuk Para Aktivis yang Ditangkap” berlangsung di Taman Apsari, Kamis (04/09/2025).
Agenda dimulai pada 16.27 WIB dan diawali dengan orasi oleh massa yang menyinggung keadaan Indonesia saat ini yang sedang tidak baik-baik saja. Massa yang hadir juga memegang poster yang menyuarakan tuntutan-tuntutan kepada pemerintah, salah satunya bertuliskan “Tetapkan Tragedi Talangsari sebagai Kasus Pelanggaran HAM Berat”.
Massa yang hadir berasal dari berbagai kalangan, Fransiskus, satu di antaranya merupakan alumni FIB Unair angkatan 2008. “Tuntutan kami cuma satu, yaitu tolong tegakan pemerintahan yang adil, pemerintahan yang sejahtera,” ujarnya melantangkan
orasinya.
Tak hanya orasi, salah satu massa juga menyerukan karya sastra berupa puisi,“Ia melihat cinta dimakamkan, rumah-rumah ibadah penuh polisi. Ia melihat cinta dimakamkan, sekolah-sekolah penuh puisi.”
Mantan narapidana terorisme, Umar Patek, turut hadir. “Teruslah berbuat baik. Jangan pikirkan risikonya. Yakinlah bahwa Tuhan pasti melindungi kita,” tuturnya menyampaikan pesan untuk massa yang hadir. Massa lainnya, Rafan, merupakan mahasiswa Institut Teknologi 10 September. Rafan mengatakan bahwa aksi kali ini adalah aksi pertamanya. Ia tergerak setelah melihat keadilan yang masih belum ditegakkan dan merasa harus bersuara. “Hari ini masih banyak keadilan yang belum ditegakkan,” ujarnya.
Komunitas Ibu Peduli Surabaya juga hadir dalam aksi ini sebagai penyedia posko logistik yang menyediakan minuman, makanan, serta perlengkapan lainnya bagi massa aksi. Melati (nama samaran), anggota Ibu Peduli Surabaya, menyatakan gerakan ini muncul dari kekhawatirannya sebagai ibu rumah tangga mengenai masa depan anaknya.
Mawar (nama samaran)—anggota Ibu Peduli Surabaya lainnya—mengaku bahwa sebagai ibu rumah tangga ia tidak bisa hanya diam melihat kondisi saat ini. “Kita juga gak bisa diem aja gitu lo. Kayak kita mesti apa gitu. Apa yang kita bisa lakukan sebagai ibu rumah tangga. Kita coba menyediakan posko logistik,” tuturnya.
Mahasiswa FH Unair juga berorasi menyoroti kondisi pendidikan di Indonesia yang belum mampu menjamin warganya. Ia merasa pendidikan malah dijadikan ladang penggelapan dana dan korupsi. “Gimana mau maju kalo menterinya sendiri korupsi,” pungkasnya.
Ketua Aksi Kamisan Surabaya, Achmad Daffa, berharap pelanggaran HAM segera diadili. “Saya dan kawan-kawan berharap bahwa impunitas segera hilang. Orang-orang yang melanggar hak asasi manusia atau melakukan pelanggaran pemberat itu segera diadili dengan seadil-adilnya.”
Aksi ini diakhiri dengan doa bersama untuk para korban pelanggaran HAM disertai dengan lilin dan bunga-bunga yang ditaburkan di depan Patung Gubernur Suryo yang berada di Taman Apsari.
Penulis: Alde Kalya Nugroho P., Claudya Liana M.
Editor: Salwa Nurmedina
TAG: #demokrasi #demonstrasi #sejarah #surabaya
LPM Retorika FISIP Unair
@lpmretorikafisip
@ngs5967e
@retorikafisipua