» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: .

Liputan Khusus
Di Balik Represivitas Aparat: Kesaksian Massa Aksi dan Tim Medis saat Aksi di Surabaya
02 September 2025 | Liputan Khusus | Dibaca 423 kali
Di Balik Represivitas Aparat: Kesaksian Massa Aksi dan Tim Medis saat Aksi di Surabaya: Di Balik Represivitas Aparat: Kesaksian Massa Aksi dan Tim Medis saat Aksi di Surabaya Foto: suarasurabaya.net
Aksi demonstrasi yang berlangsung di Surabaya sejak hari Jumat (29/08/2025) hingga Sabtu (30/08/2025) memuat catatan serius terkait upaya represivitas yang dilakukan aparat kepada massa aksi. Eskalasi aksi di hari kedua meningkat dan tidak dapat diprediksi dibandingkan dengan hari sebelumnya. Hal ini dikonfirmasi langsung oleh beberapa tim paramedis dan seorang massa aksi yang berada di posisi vital dalam aksi-aksi tersebut.

Retorika.id - Melalui beberapa wawancara yang telah dilakukan oleh Tim Retorika, kami mendapatkan gambaran mengenai eskalasi aksi dan berbagai upaya represif di beberapa titik aksi di Surabaya yang berlangsung selama dua hari kemarin.

Seorang massa aksi, R, menceritakan pengalaman langsungnya selama dua hari tergabung dalam aksi demonstrasi di Surabaya. Ia menggambarkan adanya perbedaan mencolok antara pola penindakan aparat di hari pertama (29/08/2025) dengan hari kedua (30/08/2025).

Menurut narasumber, hari pertama aksi demonstrasi masih berlangsung dengan pola yang dapat diprediksi sebagaimana penanganan aksi biasanya. “Penindakan dari pihak kepolisian itu bisa diprediksi, kayak ada barikade, kemudian ada water cannon, ada barakuda, kemudian ada gas air mata, pelontar gas air mata… itu lengkap gitu di sana,” ujarnya.

Ia juga mengatakan, meski aksi meluas hingga ke Joyoboyo, Wonokromo, hingga Jalan Sumatera, aparat tetap bertindak dengan pola yang jelas. “…dalam arti pada saat itu pun aku tau bagaimana jarak amannya atau tidaknya di sana. Gas air mata, kemudian ada rider motor, tetapi satu hal yang berbeda ketika yang terjadi di hari keduanya,” tuturnya.

Pada hari Sabtu (30/08/2025), aksi yang berlangsung di Grahadi, kali ini dimulai di Kepolisian Daerah (Polda) Provinsi Jawa Timur dan kemudian bergeser ke Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Kota Surabaya.

Sesampainya di polrestabes, M, salah satu paramedis yang bertugas dalam aksi di hari itu menuturkan bahwa massa yang berkumpul dalam kondisi yang masih kondusif. “Waktu kita sampai, massa udah pada ngumpul. Mereka barusan sampe habis mobile dari polda. It was crowded, tapi aman, belum ada yang aneh-aneh. Nah, di waktu kita sampai, di sana juga ada mobil TNI itu—yang belakangnya bukaan. Temenku sempet ngecek situasi dulu sebelum kita akhirnya puter mobil buat masuk ngelewatin massa. Untungnya, karena ada mobil TNI ini tadi dan massa tau kalau kita medis, mereka sangat amat kondusif dalam memberi jalan dan I guess in a way 'menyambut' kita.”

Menurut penuturan M, selepas dari Polrestabes, ia menuju Grahadi. Kondisinya masih aman sewaktu ia dalam perjalanan kembali dari Polrestabes.

“Sehabisnya dari Polres, kita sempet lewat dulu di depan Grahadi, waktu


iku kondisi masih aman. Ramai ya sekadar ramai Sabtu malam Minggu. Tapi jujur, Grahadi rasanya kayak jadi tempat tontonan orang. All age ada disana. Mulai dari literal bayi sampe kakek nenek.,” tutur M..

M juga menyinggung interaksi yang cukup menegangkan dengan aparat ketika salah satu anggota tim diperiksa oleh aparat yang menyamar (intel). Ia menceritakan bahwa anggota timnya menghadapi pengecekan oleh intel tersebut. “Tiba-tiba dirangkul sama intel terus dia ditanya-tanyain, hp dia sempet dicek juga,” jelasnya.

Seorang tim medis lain, Tata (nama disamarkan), juga mengalami represivitas pada hari kedua. Tata menceritakan ambulansnya yang dicegat oleh intel “Ambulansku dicegat. Driver-ku ditarik paksa keluar, ditarik bahunya (oleh intel). Kita udah teriak bahwasanya kita tim medis, terus akhirnya dibebaskan. Ada sekitar tujuh intel bawa besi baja, batu, sama bambu pokoknya itu mau nyerang kita,” ujarnya.

Tata mengungkapkan bahwa supir ambulans tersebut dalam kondisi yang baik-baik saja, tetapi ia mempertanyakan mengapa intel tersebut masih membuka dan menarik paksa sang supir keluar. “Padahal supir ambulansnya pake rompi medis gitu, lo. Tulisan mobil ambulans kita juga ambulans medis. Dan beberapa intel lainnya itu udah tau kalo itu ambulans medis,” tambah Tata menyayangkan kejadian tersebut.

Tata juga bercerita diminta nomor teleponnya saat berada di polrestabes “Gak lama—cuma tiga menit—kita baru berhenti, disamperin sama penjaganya Polrestabes itu. Ditanyain ‘ngapain di sini?’, terus dibilang ‘gak boleh ya, gak boleh di sini’. Ya udah kita geser gitu kan. Kita sempet dimintain nomer telpon, tapi kita nggak ngasih.”

D, paramedis yang bersama dengan Tata turut memberikan kronologi yang lebih rinci terkait kondisi titik aksi di Grahadi.

D menjelaskan bahwa saat mereka mencoba mendapatkan informasi arahan dari TNI terkait pembubaran massa, jawaban yang diterima hanyalah tugas untuk menjaga Gedung Grahadi. “Saya lalu bertanya, 'Menjaga grahadi ya pak?' 'Iya, Mbak, menjaga Grahadi', 'Menjaga Grahadi ini maksudnya menjaga Gedung Negara Grahadi saja atau termasuk menjaga masyarakat yg di depan Grahadi saat ini?' 'Menjaga Gedung Negara Grahadi mbak' 'Berarti masyarakat ini tidak termasuk?' 'Tidak, Mbak',” tuturnya.

Percakapan tersebut tentu merupakan hal yang mengherankan. Hal ini diperkuat dengan pernyataan R yang turut turun langsung di lapangan.

R berkata, “Ketika terjadinya pembakaran di Gedung Grahadi itu, tidak ada satu pun tindakan dari kepolisian… Itu aku bertanya-tanya pada dasarnya, kenapa mereka diam saja? Bahkan TNI hanya menonton. Tidak ada upaya untuk membubarkan massa ketika hal itu terjadi.”

Baru setelah bagian kanan gedung terbakar habis, aparat menembakkan gas air mata. “Kemudian dari sana baru mulai ada tembakan gas air mata dari pihak kepolisian. Tetapi, water cannon juga belum terlihat keluar pada saat itu,” imbuhnya.

D yang saat itu tengah menangani pasien korban pemukulan, turut menyaksikan eskalasi kekacauan di Grahadi. “Kami melihat Gedung Grahadi telah terbakar besar pukul 22.07 (WIB). Tak lama, ada korban datang dengan posisi kepala luka. Saya bertanya, 'Ini kenapa? Kamu dari mana?', 'Nggak tau kak, saya lagi narik temen, tiba-tiba dipukul dari belakang',” jelasnya. 

Pelaku tindak pemukulan tersebut tidak dapat diidentifikasi sebab korban yang tengah menyelamatkan temannya mengalami syok kala mendapati kepalanya terluka imbas pukulan yang dilayangkan kepada dirinya.

D juga memberikan keterangan bahwa sempat ada dua orang laki-laki yang memanggilnya ketika ia berada di ambulans milik tim medisnya. Mereka memberikan peringatan kepada D selaku tim medis untuk meninggalkan area Gedung Grahadi pukul 00.00 WIB karena mereka akan melakukan ‘tindakan’. Ketika D bertanya apakah mereka berasal dari kepolisian, orang-orang tersebut hanya menjawab, “Anggap saja begitu.”

Karena sebelumnya D dan teman-temannya telah di-briefing terkait rute tim medisnya, ia kemudian berinisiatif menanyakan rute untuk evakuasi tim medis. Hal itu ia lakukan untuk memastikan apakah ‘intel’ ini menyarankan rute yang sama atau tidak.

“Dia jawab, ‘Mbak, nanti belok kiri saja, ke arah DPRD. Di sana lokasi aman.’ Jawaban beliau berkebalikan dengan rute evakuasi yang sudah di-briefing oleh koordinator timku. Karena di DPRD justru lokasi yang tidak aman untuk medis,” terangnya.

D menambahkan, “Teman-teman sudah pada tahu kalau itu kemungkinan jebakan karena pada saat itu kami dapat info kalau area DPRD nggak aman kemarin tanggal 29 (karena ada barikade polisi). Jadi, kalo ke kiri, possibly kena gebuk atau dipaksa mundur ke belakang barikade supaya gak bisa nolong siapa-siapa. Jadi, pas kami tau diarahin ke DPRD, kami skeptis dan tidak terlalu menghiraukan arah yg disarankan.”

Selain korban luka, gas air mata yang mulai ditembakkan aparat memaksa tim medis mengamankan diri. Hal ini dipaparkan oleh Tata yang saat itu tengah menangani massa yang terluka dan membutuhkan tindakan jahitan di tempat. Di saat bersamaan, ia mulai mencium asap gas air mata. Tak lama setelah itu, ia memutuskan mundur bersama timnya. Lantas, ketika ia bergerak hingga sekitar Yamaha Land, dirinya mendapati gas air mata ditembakkan oleh aparat. Ia dan timnya kesulitan untuk mobilisasi menghindari gas air mata sebab jalan utama diblokade.

“Karena kita berhentinya di depan Yamaha Land. Jalan kan, sambil istirahat. Ternyata tear gas-nya udah sampe Bank Mandiri Livin. Kita mau lari ke bambu runcing karena beberapa mobil ambulans udah pada maju. Ternyata gaksampe beberapa menit dari berangkat, itu kita diblokade di perempatan Yamaha Land yang di kanan jalan mau ke Taman Apsari itu. Ternyata udah ada polisi yg nembak tear gas sekitar tiga (buah). Kita kehenti, akhirnya ngumpul di gedung. Di situ kita nyelamatin satu warga sipil yang bawa anaknya (dengan posisi) gak pake masker. Akhirnya disembunyiin di pos satpam dan dibantu satpam sana. Kita pulang masing-masing jam 12 (malam) pas karena udah chaos banget,” ungkap Tata.

Dari keseluruhan kesaksian narasumber, aksi di hari kedua ini memang sangat tidak bisa diprediksi sebab keberadaan safe zone dan penindakan aparat tidak bisa dipastikan. Pernyataan ini dikonfirmasi oleh R.

“Hari kedua itu sangat-sangat menyeramkan karena tidak tahu safe zone di mana. Bahkan safe zone kita yang kita anggap santai, aman… tiba-tiba disergap polisi. Ada gas air mata di perempatan itu,” pungkasnya.

Tindak represif aparat dalam aksi yang didukung dengan kesaksian pihak-pihak yang terlibat menjadi catatan keras bagi aparat. Dinamika yang terjadi di antara massa aksi selalu dijustifikasi dengan kekerasan yang koersif. Hal ini menjadi krusial untuk ditindaklanjuti sebab medium ekspresi protes publik sudah seharusnya bebas dari intervensi kekerasan.

Penulis: Aveny Raisa, Alde Kalya, Putu Sridhani

Editor: Salwa Nurmedina

 


TAG#aspirasi  #demokrasi  #demonstrasi  #sosial