
Seluas 16,5 juta hektare hutan dirusak untuk lahan sawit. Sebanyak 200 ribu hektare suaka margasatwa hilang dalam 6 tahun ke belakang. Kebijakan yang memihak penguasa, tambang dan ekstraktif yang ikut bermain dalam menopang proses kampanye dan elektoral pemilu. Rakyat kecil hanya dapat ampasnya. Masalah-masalah ini yang dibahas dengan intens dalam bedah buku dan diskusi #Reset Indonesia pada Sabtu (27/12/2025) lalu.
Retorika.id - Menjadi kota ke-50 dalam rangkaian bedah buku yang diselenggarakan oleh Tim Ekspedisi Indonesia Baru, bedah buku #Reset Indonesia diselenggarakan di Surabaya pada Sabtu, (27/12/2025). Diskusi turut dihadiri oleh ketiga penulisnya, yakni Farid Gaban, Dandhy Laksono, dan Yusuf Priambodo. Sebanyak 500 orang menghadiri kegiatan meski hujan deras melanda. Kegiatan dimulai dengan pembukaan lapak baca buku dari berbagai komunitas buku di Surabaya pada pukul 15.00 WIB, diselingi dengan penampilan band serta puisi, dan dilanjutkan acara inti bedah buku pada pukul 18.00 WIB.
Dalam diskusi, penulis memaparkan berbagai masalah lingkungan, kondisi ekonomi, permainan politik, serta berbagai masalah sosial lainnya yang dihadapi masyarakat kecil. Setiap penulis menjelaskan secara bergantian masalah lingkungan apa yang terjadi di Indonesia paling timur sampai paling barat. Diskusi dimulai dengan pembahasan mengenai proses perjalanan buku. Terdapat tiga ekspedisi yang telah dimulai sejak tahun 2009; Zamrud Khatulistiwa, Ekspedisi Indonesia Biru, dan Ekspedisi Indonesia Baru. Perjalanan panjang ini dimulai karena keresahan penulis akan perusakan alam dalam pengembangan ekonomi. “Mungkinkah mengembangkan ekonomi tanpa merusak alam?” tanya
Farid Gaban. Farid menyebutkan bahwa keanekaragaman hayati di Indonesia sangatlah kaya, namun pemanfaatan yang tidak pada batas wajar telah merenggut keindahan dari alam Indonesia. Para penulis menyebutkan bahwa proses perjalanan Ekspedisi Indonesia ini tidaklah mudah, tetapi keinginan untuk membuat Indonesia menjadi lebih baik menjadi pendorong utama berjalannya ekspedisi.
Diskusi berlanjut membahas tentang kebijakan pemerintah yang memanfaatkan alam tanpa menjaga alam itu sendiri. “Masalah kerusakan alam yang ada di Indonesia sudah mencapai akar-akarnya, maka dari itu perlu perbaikan dari akar-akarnya juga,” ujar Dandhy. Dalam ekspedisinya, Yusuf menyebutkan bahwa suaka margasatwa, tempat berlindung bagi satwa liar, telah berkurang dan digantikan dengan perkebunan sawit. “Suaka margasatwa lahannya berkurang 200.000 hektare dari 2019 sampai sekarang”. “Di tanah Papua, 2,5 juta hektare lahan Papua diganti dengan perkebunan tebu,” lanjutnya. Penggunaan lahan memang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan, tetapi yang harus dipertanyakan adalah skala pemanfaatan lahan yang digunakan. “Terlalu luas dan nggak manusiawi,” sebut Yusuf.
Diskusi selanjutnya membahas tentang pertambangan nikel yang masif dan merata di seluruh Indonesia. Sembilan titik pertambangan nikel telah didatangi oleh penulis untuk diinvestigasi. Penambangan nikel yang masif di Indonesia disebabkan kebutuhan pasar global yang sedang berlomba menghasilkan kendaraan berbahan dasar baterai untuk mengurangi emisi karbon. Namun kenyataannya, penambangan nikel yang terjadi di Indonesia tidak mempertimbangkan dampak negatif bagi masyarakat.
Dalam video dokumenter yang diputar, ditunjukkan bahwa banyak masyarakat yang terjangkit penyakit kulit karena menggunakan air yang sudah tercemar limbah pertambangan. Yusuf menyebutkan, di beberapa titik di Indonesia, pertambangan nikel dilakukan tanpa perbincangan dengan warga sekitar. Bahkan, AD/ART diterobos untuk melakukan pertambangan. Dalam ekspedisinya, penulis menemukan bahwasanya masyarakat yang tinggal di beberapa area pertambangan, darah pada tubuh mereka telah mengandung logam berat. Hal ini menyasar kepada seluruh kalangan, tidak hanya pada orang dewasa. Hal ini disebabkan oleh air yang seharusnya menjadi sumber kehidupan telah tercemari oleh logam berat karena efek pertambangan. Dandhy juga menyebut bahwa banjir selama dua bulan di Sintang, juga banjir di Halmahera, terjadi karena adanya pertambangan ini. “Terdapat logical fallacy dalam pemanfaatan nikel ini,” tutur Yusuf.
Diskusi bedah buku berjalan interaktif antara audiens dan pemateri. “Mengapa tetap optimis di tengah semua pergolakan sosial politik yang ada di Indonesia ini?” tanya salah satu audiens. “Sejak 2019 adalah, jumlah partisipasi publik terbesar semenjak pascareformasi, disusul Omnibus Law juga, sejak saat itu gerakannya intens. Kalau kita pesimis, dan yang optimis orang-orang seperti Bahlil dan Gibran, jadi apa negara ini?” jawab Dandhy. Statement akhir dari Dandhy terkait ketakutannya akan isu air bersih yang bisa menjadi isu geopolitik dan global dunia, serta bayangannya tentang air yang bisa jadi lebih mahal dari BBM jika masalah lingkungan tidak segera diatasi, memunculkan gemuruh tepuk tangan dari audiens.
Setelah beberapa pertanyaan, Yusuf menutup diskusi dengan pembacaan epilog dalam buku #Reset Indonesia yang berisi harapan tentang Indonesia yang lebih baik bagi generasi selanjutnya. Acara ditutup dengan aksi simbolik menyalakan lilin untuk merawat ingatan akan seluruh korban dari berbagai tragedi pelanggaran HAM di Indonesia. Puisi dibacakan dengan diiringi lagu “Darah Juang”.
Penulis: Teresa Diannusa
Editor: Claudya Liana M.
TAG: #aspirasi #demokrasi #ekonomi #lingkungan
LPM Retorika FISIP Unair
@lpmretorikafisip
@ngs5967e
@retorikafisipua