» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: .

Liputan Khusus
Di Balik Semarak Euforia PKKMB Amerta yang Tak Sepenuhnya Dirasakan Mahasiswa Baru FIKKIA
02 Agustus 2025 | Liputan Khusus | Dibaca 517 kali
Di Balik Semarak Euforia PKKMB Amerta yang Tak Sepenuhnya Dirasakan Mahasiswa Baru FIKKIA: - Foto: Dokumentasi pribadi
Tantangan berlipat ganda harus dihadapi mahasiswa baru FIKKIA Banyuwangi setiap tahunnya. Terpisah 300 kilometer dari kampus Unair Surabaya, mereka harus berjuang ekstra keras demi mengikuti PKKMB Amerta yang serba mendadak. Mulai dari akomodasi, transportasi, hingga tugas dadakan. Kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi lantas membuat sebagian mahasiswa baru FIKKIA merasa "dianaktirikan" oleh universitas.

Retorika.id - Mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) yang merupakan bagian dari Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU) Universitas Airlangga di Banyuwangi kembali menghadapi tantangan yang nyaris menjadi rutinitas tahunan, yaitu harus mengikuti rangkaian kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Amerta yang terpusat di Surabaya.

Di pekan pelaksanaan Amerta, mahasiswa FIKKIA punya tantangan sendiri karena peletakan kampus mereka yang berada di luar wilayah kampus Unair di Surabaya. Akibat penempatan kampus FIKKIA Banyuwangi berjarak kurang lebih 300 kilometer dari Kota Surabaya, setiap tahunnya mahasiswa FIKKIA harus mempersiapkan diri secara ekstra demi mengikuti rangkaian ospek Amerta: mempersiapkan akomodasi, transportasi, dan atribut dari jauh-jauh hari. Hal ini semakin dipersulit dengan kebiasaan Unair yang menormalisasikan pemberitahuan informasi yang mendadak.

Liam (nama samaran), yang merupakan salah satu mahasiswa baru FIKKIA, memberi keterangan senada dengan keluhan kebanyakan mahasiswa dari kampus Banyuwangi. “Dari segi pakaian kebanyakan kita harus nyari yang gak punya, jadi kalo saya nyiapin itu dadakan soalnya infonya juga dadakan.” Ia juga menuturkan bahwa


ketidakpastian tanggal pelaksanaan membuat sebagian mahasiswa memilih berangkat lebih awal. “Ada yang bilang Amerta tanggal 31, ada yang bilang tanggal 1. Jadi aku dan temanku sepakat berangkat tanggal 28, biar aman.”

Minimnya aliran informasi dari kampus pusat membuat mahasiswa FIKKIA seolah berada di ruang abu-abu, tidak sepenuhnya menjadi bagian dari pusat, namun juga belum mendapat dukungan penuh di daerah. “Teman-teman lain banyak yang kesusahan juga. Malah di grup itu sampe rame, masalahnya sama, uner selalu ndadak. Akuakultur juga kayak harus mandiri cari informasinya karena katingnya juga nunggu info dari sini (pusat) jadinya lama dan kurang cepet dapet informasinya. Kelompok garuda dan ksatria juga belum diumumin. Katanya ada yang bilang udah diumumin tapi masih simpang siur juga. Banyuwangi (FIKKIA) belum dapat info, kayak dianaktirikan,” sambung Liam.

Masalah tak berhenti sampai di situ. Penugasan Amerta yang diberikan mendadak, bahkan baru keluar pada malam hari dengan tenggat pengumpulan keesokan paginya, membuat para mahasiswa baru harus begadang untuk menyelesaikan seluruh tugas. “Dalam segi penugasan itu h-1 malamnya baru dapat, deadline paginya. Jadi kita semaleman war tugas, dari twibbon Amerta, UKM, sama video.”

Masalah informasi yang mendadak agaknya sudah menjadi makanan sehari-hari bagi mahasiswa baru FIKKIA. Bagi mereka yang menempuh pendidikan di luar kampus utama Universitas Airlangga, ketidakpastian jadwal dan minimnya komunikasi dari pusat bukan lagi hal baru. Fenomena ini seolah menjadi siklus tahunan yang tak kunjung terselesaikan.

LPM Retorika mencatat bahwa keluhan serupa telah berulang setidaknya dalam dua tahun terakhir. Pada Amerta tahun 2024 dan 2023, tim kami pernah mewawancarai dua mahasiswa FIKKIA kala itu, yakni Zaza dan Yuna.

Komplain yang Zaza saat itu sebutkan serupa dengan komplain Liam pada saat ini. Zaza kala itu mengeluhkan waktu transisi yang terlalu singkat antara pelaksanaan Amerta di Surabaya dan dimulainya kuliah di Banyuwangi. Selain harus menyesuaikan diri dengan kegiatan orientasi, mahasiswa juga dibebani urusan logistik untuk relokasi dan adaptasi tempat tinggal dalam waktu yang hampir bersamaan. Situasi ini menyulitkan mahasiswa yang datang dari berbagai daerah, bahkan luar provinsi. “Dari sini (Surabaya ke Banyuwangi) waktu untuk mulai perkuliahan terbilang mepet ya kak. Jadi banyak banget yang harus dipersiapkan,” ujar Zaza pada tahun 2024.

Sementara itu, Yuna yang menjadi mahasiswa baru FIKKIA pada tahun 2023 mengalami kebingungan serupa karena keterlambatan informasi. Minimnya pengumuman membuat mahasiswa harus berspekulasi sendiri kapan harus berangkat ke Surabaya, tanpa kepastian soal jadwal kegiatan. “Karena info ospeknya belum keluar, aku datang h-2 naik kereta selama lima jam dari Banyuwangi,” pungkas Yuna pada tahun 2023.

Dengan rangkaian yang panjang dan terpisah dua kota ini, mahasiswa FIKKIA lagi-lagi berada di posisi serba tanggung. Mereka ikut Amerta di Surabaya, namun tetap harus kembali menjalani tahap orientasi fakultas di kampusnya. Alhasil, beban fisik dan mental menjadi berlipat.

Pada akhirnya, Liam berharap agar mereka mampu mengikuti rangkaian Amerta 2025 dengan tuntas. Pasalnya, mereka masih harus mengikuti ospek fakultas lagi di Banyuwangi. “Ospek fakultas ikut di sini, di kampus C, di FPK. Soalnya kalo FIKKIA disuruh ikutin alur yang di univ dulu, setelah dari sini baru ada ospek lagi di Banyuwangi,” tutup Liam, yang sekaligus menutup sesi wawancara pada hari ini.

Penulis: Aveny Raisa dan Naara Nava Athalia Lande

Editor: Claudya Liana M.

 


TAG#akademik  #dinamika-kampus  #universitas-airlangga  #