» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: .

Liputan Khusus
Kritik terhadap BEM FISIP Unair: Kurang Sigap dalam Aksi Tolak UU TNI?
25 Maret 2025 | Liputan Khusus | Dibaca 934 kali
Kericuhan yang terjadi dalam Aksi Tolak Revisi UU TNI di depan Gedung Negara Grahadi pada Senin (25/03/25) memunculkan kritik terhadap koordinasi internal massa aksi, terutama dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair).

Retorika.id - Kericuhan yang terjadi di tengah Aksi Tolak UU TNI pada Senin (25/03/25) menjadi perbincangan. Di tengah kekacauan ini, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik  (FISIP) Universitas Airlangga (Unair) mendapat kritik dari beberapa pihak karena dinilai kurang sigap dalam mengoordinasi massa dan memastikan keselamatan mahasiswa yang terlibat. 

Beberapa pihak menilai minimnya kepemimpinan di lapangan menyebabkan mahasiswa FISIP yang tergabung dalam aksi mengalami kesulitan saat bentrokan terjadi. Beberapa peserta bahkan kehilangan kontak dengan kelompoknya, sementara lainnya menjadi korban penangkapan oleh aparat.

Koordinator lapangan dari Program Studi (Prodi) Sosiologi 2022, Wira, mengungkapkan bahwa pendataan massa sebenarnya sudah dilakukan, tetapi banyak peserta aksi yang datang tanpa melakukan pendataan resmi. 

“Kemarin itu diserahkan ke komting masing-masing. Jadi, aku langsung koordinasi dengan komting buat taktis evakuasi,” ujarnya. Ia juga menegaskan bahwa tidak ada koordinator lapangan (korlap) resmi dari tingkat universitas maupun fakultas yang mengatur massa Unair di lokasi aksi.

Terjadi beberapa kali kekacauan sekitar pukul 17.40 WIB. Salah satu peserta aksi, RR (inisial), menjadi orang pertama yang tertangkap pertama. Wira menjelaskan bahwa fokusnya saat itu hanya mengurus massa dari Sosiologi. Sementara itu, tiga mahasiswa Unair dilaporkan hilang, yakni satu dari Prodi Sosiologi, satu dari Prodi Ilmu Politik, dan satu dari Fakultas


Vokasi.

Kritik terhadap BEM FISIP muncul karena dianggap tidak memiliki langkah antisipatif dalam aksi tersebut. Seharusnya, menurut beberapa pihak, Kedirjenan Aksi dan Propaganda (Akspro) dari Kementerian Politik dan Strategi (Kemenpolstrat) BEM FISIP Unair bertanggung jawab dalam mengoordinasi massa dari FISIP, mengingat BEM Unair tingkat universitas belum membentuk kabinet resminya. 

“Kemarin itu pure kita (massa Unair) cuma ikut massa cair. Karena dapat info bahwa goals-nya disetting chaos, makanya aku bilang di grup buat mundur aja,” lanjut Wira.

Selain itu, komunikasi internal di BEM FISIP juga dipertanyakan. Wakil Presiden BEM FISIP, Roofi, disebut berkomunikasi dengan massa Sosiologi melalui Menteri Sosial & Lingkungan, Syalish, namun informasi mengenai penangkapan RR sempat simpang siur. Wira mengungkapkan bahwa ia mencoba menghubungi Syalish untuk memastikan sumber informasi, dan diketahui bahwa informasi tersebut berasal dari mahasiswa Ilmu Politik yang juga ditangkap dalam aksi tersebut. “Yang aneh seh ya waktu aku telpon Syalish buat mastiin infonya dari mana, katanya dari ANS (massa aksi dari Ilmu Politik yang tertangkap) ini tahu RR ketangkep pas sama-sama sudah ketangkep,” ungkapnya.

Menanggapi hal ini, pihak BEM FISIP Unair, Rama, selaku Menteri Politik dan Strategis (Polstrat) menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan berbagai persiapan sebelum aksi berlangsung. “Kita sebelum aksi sudah ngelakuin banyak persiapan. Termasuk briefing dengan perwakilan massa, koordinasi juga dengan elemen gerakan di pengumuman konsolidasi Unair itu,” ujarnya.

Namun, ia mengakui adanya hambatan komunikasi di lapangan yang menyebabkan koordinasi menjadi sulit. “Sebenernya kalau aku pantau dari grup, ada upaya nyatuin barisan FISIP, cuma kondisinya sudah nggak memungkinkan karena terlalu crowded. Tapi situasi di lapangan yang benar-benar cepat banget, kita akui ada hambatan komunikasi lapangannya. Problemnya adalah banyak massa aksi yang ikut itu tidak terdaftar di kita/ BEM itu sendiri. Mungkin ini bakal kita jadikan bahan evaluasi untuk memastikan komunikasi yang lebih efektif kedepannya. Kita sangat terbuka akan masukan dan kritikan dari temen-temen sekalian kok.” tambahnya.

Mengenai laporan-laporan tentang massa aksi yang menjadi korban penangkapan, pihak BEM FISIP menyatakan bahwa sudah ada mekanisme tersendiri dalam merespons hal ini. “Perihal laporan aksi massa yang ditangkap simpang siur itu. Sebenernya kita dari BEM FISIP memiliki pendataan secara berkala via korlap-korlap. Cuman karena persiapan yang sangat mepet, kita dari Polstrat sendiri sudah menyiapkan kertas untuk ditulis nama secara langsung apabila ditemukan yang belum terdaftar maupun yang mendaftar. Nah, kita juga melakukan absensi terhadap peserta pasca chaos tersebut. Namun, kami menyadari banyak yang tidak terdaftar membuat kita dengan cepat preventif membuat story Instagram apabila ada informasi apapun bisa via dm Instagram BEM FISIP Unair,” jelas Rama

Selain itu, Rama juga mengungkapkan bahwa pihaknya, tepatnya Kedirjenan Aksi dan Propaganda, telah melakukan sweeping dan pendataan untuk memastikan keberadaan massa yang tertangkap. 

“Sebenernya koorlap kita tuh sudah melakukan sweeping juga karena ada info anak yang ketangkep dari FISIP Unair. Terutama dari fungsionaris BEM melakukan sweeping hingga jam 6-an kalau nggak salah. Sudah melakukan absensi juga,” jelasnya.

Perihal massa dari FISIP yang menjadi korban penangkapan, pihaknya menjelaskan bahwa korban telah dibebaskan sekitar pukul 03.30 WIB tadi. Ia juga mengapresiasi segenap massa yang turun dan mengusahakan pembebasan para korban. “Kita bener-bener mengerahkan segalanya, aku pengenshoutout buat temen-temen semua yang bisa bawa massa ke depan Polrestabes juga dan sangat proaktif, juga pihak KontraS dan LBH yang cepat tanggap dengan FISIP. Kalau aku kemarin pribadi bisanya adalah menyambungkan pihak keluarga dengan penasehat hukum dari KontraS,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Rama evaluasi dalam memastikan keamanan massa aksi ke depannya. “Kita berusaha dengan matang mengenai titik kumpul, tempat briefing, tim medis, jalur evakuasi, dan aksi massa. Ya, mungkin ini menjadi pelajaran yang sangat penting buat kita, terutama supaya mekanisme mobilisasi bisa responsif terhadap kondisi dinamika aksi yang ada,” tegasnya.

Penulis: Aveny Raisa

Editor: Salwa Nurmedina


TAG#bem  #demokrasi  #demonstrasi  #fisip-unair