
Tahun ini, Unair membuka PKKMB dengan riuh kabar gembira yang “sungguh membanggakan,” katanya. Peringkat ke-287 dunia versi QS WUR, ke-9 dunia versi THE Impact Rankings, bahkan nomor 1 di nasional dan Asia untuk SDG 6. Hebat? Mungkin. Meskipun ranking naik, tapi apakah kenyataan kampusnya juga ikut membaik?
Retorika.id - PKKMB adalah waktu yang sakral di universitas. Kegiatan ini menjadi teramat megah sebab di momen inilah ribuan mahasiswa baru dikumpulkan, duduk rapi berseragam, dan diperkenalkan pada identitas kampus dari sejarah, jargon, mars, visi, hingga tentu saja… ranking. Tahun ini, PKKMB Universitas Airlangga dibuka dengan euforia yang agak berbeda. Di layar besar, rektor memamerkan prestasi kampus yang–kalau boleh jujur–cukup memantik kebanggaan, apalagi bagi mahasiswa baru.
“Universitas Airlangga menempati peringkat ke-287 dunia dalam QS World University Rankings (QS WUR) 2025, peringkat ke-9 dunia dalam THE Impact Rankings yang menyoroti dampak sosial dan lingkungan dan kontribusi universitas dalam menyelesaikan berbagai permasalahan bangsa. THE impact ranking menilai kinerja universitas berdasarkan masing-masing 17 poin SDGs. Universitas Airlangga berhasil menduduki peringkat 9 dunia, nomor 1 nasional dan Asia. Secara khusus, Universitas Airlangga nomor 1 di dunia dalam kategori SDGs 6 clean water and sanitation,” ucap Rektor dengan penuh kebanggaan.
Hebat? Mungkin. Ajaib? Bisa jadi. Layak dirayakan? Tentu, jika kalian percaya unicorn itu nyata.
Saya sebagai mahasiswa lama yang sering bertanya-tanya mengapa tisu dan sabun di toilet sering tak nampak wujudnya, galon-galon air minum yang isinya gaib, serta menyaksikan sendiri sampah-sampah yang selalu menghiasi sudut-sudut kampus, lantas mengernyitkan dahi melihat ranking komitmen keberlanjutan lingkungan yang super megah itu. Ini bukan pertama kalinya saya melihat realitas dan prestasi berjalan ke arah yang berlawanan. Namun, yang membuat
momen ini istimewa adalah cara semua itu dikemas dengan rapi, meyakinkan, dan penuh semangat. Seolah-olah kampus ini benar-benar telah menyelamatkan dunia.
Yang Hijau Tak Tumbuh, yang Berkicau pun Tak Nyata
Aih, kampusku ini ... dari kejauhan tampak memesona. Terhampar beberapa sudut hijau, tapi tunggu, kehijauan itu rupanya tidak muncul dari tanah. Rumputnya terlampau rapi dan tidak pernah tumbuh, karena ya memang tidak hidup–hanya rumput sintetis. Kicau burung terdengar nyaring, teratur, seolah bersahutan dari pucuk-pucuk pohon. Tapi burungnya tak pernah menampakkan diri, karena ya memang tidak ada. Yang ada hanya pengeras suara yang dijadwalkan untuk melantunkan riuh kicau burung di setiap harinya. Semuanya palsu.
Saat PKKMB, mahasiswa baru dipampangkan citra kampus unggulan, bersih, hijau, dan mendunia. Namun, mereka belum sempat masuk ke kamar mandi fakultas yang sabunnya selalu kosong, atau airnya mati, dan barangkali juga belum sempat melihat tumpukan sampah berserakan di sudut-sudut bangunan kampus.
Citra Semu yang Dilanggengkan Melalui Habitus Institusi
Dalam pemahaman Habitus oleh Bourdieu, kita dapat melihat bahwa sebenarnya kampus tidak sebatas hanya sebagai tempat belajar. Kampus dapat dipandang sebagai arena perebutan kuasa simbolik, di mana aktor-aktor saling bersaing melalui kapital–baik itu kapital akademik, ekonomi, maupun simbol-simbol tertentu.
Peringkat-peringkat global seperti yang telah disebutkan di atas adalah bentuk kapital simbolik yang paling digemari hari ini. Sebab eksistensinya tidak hanya menaikkan gengsi, tetapi juga menjadi alat legitimasi untuk setiap kebijakan, branding, dan bahkan membatasi ruang suara yang tidak sejalan dengan kepentingan mereka yang berkuasa. Maka terbentuklah habitus institusional yang tidak lagi mempersoalkan apakah kita benar-benar bermutu, tapi apakah kita ‘terlihat’ bermutu.
Dari sinilah lahir budaya branding performatif. Upaya-upaya yang dilakukan hanyalah untuk menyamarkan kerusakan sistem dengan citra keberlanjutan. Sebab seperti yang kita tahu, SDGs adalah istilah yang kini hanya sebatas hiasan. Malcolm Langford (2016) menyebut SDGs sebagai Christmas tree global, penuh ornamen target politis yang bisa dirangkai sesuai selera, tetapi implementasinya telah kehilangan akar struktural yang bisa benar-benar membawa perubahan. Terlalu banyak kompromi, terlalu sedikit transformasi. Maka tidak mengherankan bila kampus dengan rumput sintetis dan burung dari speaker pun bisa dikategorikan sebagai “agent of sustainability”.
Cinta Buta terhadap Peringkat
Dari sekian banyak hal yang diperkenalkan di PKKMB, dari birokrasi kampus sampai tagline fakultas, hal yang paling sering diulang adalah “Unair kampus unggulan.” Tapi unggul untuk siapa? Dalam hal apa?
Kalau unggul itu soal peringkat, mungkin benar. Tapi kalau unggul itu soal kebebasan akademik, transparansi, birokrasi, apalagi keberlanjutan pengelolaan lingkungan, sayangnya pada realitanya kita belum sejauh itu. Mahasiswa masih sering susah payah berjibaku menghadapi birokrasi yang tidak jelas dan berbelit. Organisasi kemahasiswaan tidak jarang dibatasi dan tidak bebas dalam menjalankan fungsinya. Kegiatan-kegiatan mahasiswa yang harus meminta izin berlapis-lapis.
Tapi semua itu tampaknya tidak penting. Yang penting peringkat. Yang penting bisa naik podium dan berkata, “Kita nomor satu di dunia!”
Universitas Tak Perlu Menyembah Ranking
Ranking memang punya fungsi. Keberadaan ranking tidak dapat dipungkiri bahwa bisa dijadikan sebagai alat ukur, bisa pula jadi motivasi. Akan tetapi, ketika ranking dijadikan dalil mutlak bahwa kampus ini luar biasa hebat ketika masih banyak sekali lubang-lubang celah yang tidak selaras dengan pencapaian, maka yang sedang kita amini hanyalah narasi semu yang sarat akan kepalsuan belaka.
Referensi:
Bourdieu, P. (2018). Structures, habitus, practices. In Rethinking the subject (pp. 31-45). Routledge.
Junaidi, A. (2022, October 24). Sistem pemeringkatan kampus punya banyak kekurangan – tapi ini alasan untuk memperbaikinya, bukan menghapusnya. The Conversation. Retrieved July 31, 2025, from https://theconversation.com/sistem-pemeringkatan-kampus-punya-banyak-kekurangan-tapi-ini-alasan-untuk-memperbaikinya-bukan-menghapusnya-190979
Harvey, L. (2008). Rankings of higher education institutions: A critical review.
Langford, M. (2016). Lost in transformation? The politics of the sustainable development goals. Ethics & International Affairs, 30(2), 167-176.
Penulis: Aveny Raisa
Editor: Dwi Arbelia
TAG: #dinamika-kampus #lingkungan # #
LPM Retorika FISIP Unair
@lpmretorikafisip
@ngs5967e
@retorikafisipua