
Simulasi demonstrasi di United FISIP Orientation (UFO) dimaksudkan untuk menghidupkan akal pikiran kritis para mahasiswa FISIP Unair. Namun, fakta di lapangan berkata lain. Tidak semua mahasiswa berani bersuara dan memilih untuk bersikap acuh tak acuh terhadap isu sosial politik di Indonesia. Lantas, apakah simulasi demonstrasi ini masih relevan sebagai sarana latihan berpikir kritis? Atau apakah ini hanyalah ajang seremonial tahunan?
Retorika.id - Simulasi demonstrasi merupakan agenda tahunan yang selalu ada dan menjadi bagian dari rangkaian acara United FISIP Orientation (UFO). Simulasi ini dilaksanakan pada hari kedua, yakni Jumat (08/08/2025). Hampir setiap mahasiswa FISIP Unair pasti melewati simulasi ini dengan tujuan memantik pikiran kritis dan peka kepada isu sosial di setiap tahunnya.
Sebagai mahasiswa yang mempelajari bidang ilmu sosial dan politik, kepekaan terhadap persoalan masyarakat dianggap sebagai bekal wajib. Namun, realitanya tak semua mahasiswa nyaman untuk bersuara. Sebagian memilih diam atau bersikap pasif terhadap dinamika sosial politik yang terjadi.
Simulasi demonstrasi dalam rangkaian UFO ini diawali dengan mata acara sidang rakyat. Studi kasus sidang tahun ini adalah RUU KUHAP, UU ITE, dan RUU Penyiaran. Dalam sidang tersebut, mahasiswa harus menyuarakan pendapatnya mengenai kebijakan-kebijakan yang dibahas pada mata acara sebelumnya. Setelahnya, mereka melakukan long march di lingkungan Kampus B Unair sembari menyuarakan kritik terhadap isu yang ditentukan, dan ditutup dengan orasi di samping Amphiteater.
dir="ltr">Para mahasiswa baru yang baru saja mengikuti simulasi demonstrasi mengakui pentingnya agenda ini karena menjadikan mereka lebih paham pentingnya berpikir kritis. Abdul Fatah, salah satu mahasiswa baru FISIP Unair, berujar, “kami jadi lebih paham tentang konteks-konteks yang diperjuangkan oleh mahasiswa-mahasiswa sebelum kita dan menjadi cikal bakal perjuangan kami selanjutnya.” Surya Gemilang yang juga mahasiswa baru menambahkan bahwa materi pembekalan sebelum simulasi sangat membantu memperluas pemahaman mereka.
Bagi mahasiswa yang sudah pernah turun aksi, seperti Barton dari angkatan 2023, simulasi ini menurutnya dapat menjadi sarana latihan awal untuk memahami kondisi lapangan dan membangun keberanian bersuara. Terlebih lagi bagi mahasiswa FISIP yang makanan sehari-harinya adalah isu sosial dan politik. “Sebagai anak FISIP, setidaknya mengerti mengenai kondisi lapangan saat turun aksi demo nanti,” ucap Barton, salah satu mahasiswa FISIP Unair angkatan 2023. Sebagai mahasiswa yang kerap kali turun aksi, Barton mengatakan bahwa ia tidak memaksakan kehendak pada mahasiswa lain untuk ikut turun aksi. Terdapat banyak cara lain yang bisa digunakan untuk menyuarakan pendapat.
Senada, Khayru dari angkatan 2024 menyebutkan bahwa setiap mahasiswa punya pilihan bentuk aksi. “Ibarat prasmanan, kita dapat memilih bentuk aksi yang kita lakukan. Apakah kita akan turun ke jalan atau kita fokus ke akademik?” ujarnya. Ia juga kerap mengikuti aksi demonstrasi turun ke jalan, bahkan ia pernah menjadi koordinator lapangan. Baginya, simulasi demonstrasi ini bukan sekadar budaya arek-arek FISIP, tetapi juga bekal untuk turun aksi nantinya.
Tigas dari angkatan 2023 dan Razita dari angkatan 2024 mengaku belum pernah mengikuti aksi demonstrasi. Namun, mereka tetap mengakui pentingnya simulasi sebagai bentuk edukasi. Tigas mengaku bahwa ia merupakan pribadi yang apatis terhadap isu sosial dan politik. Di sisi lain, ia tetap percaya simulasi ini merupakan bentuk latihan kontrol mahasiswa terhadap kebijakan pemerintah. Sedangkan, Razita mengaku bahwa belum mendapat izin orang tua untuk turun aksi.
“Meskipun semua mahasiswa telah mengikuti simulasi demo dan nantinya tidak semuanya akan turun demo, itu adalah hal yang wajar, tapi idealnya, mahasiswa harus mau turun ke lapangan,” jelas Tigas. Ia mengamini bahwa idealnya mahasiswa FISIP adalah yang mau turun aksi ke jalan meski dirinya belum pernah melakukan.
“Setiap orang punya kondisinya masing-masing. Bentuk speak up itu bukan dari demo aja. Orang yang belum pernah demo bukan berarti ignorant,” sanggah Razita. Setelahnya, ia menjelaskan bentuk-bentuk unjuk rasa lain selain demonstrasi turun ke jalan, seperti salah satunya lewat media sosial.
Simulasi demonstrasi bukan sekadar ajang seremonial tahunan, melainkan sebuah upaya simbolik dalam memantik nalar kritis mahasiswa FISIP Unair. Meski nantinya tidak semua mahasiswa akan turun aksi ke jalan, agenda ini telah membuka pikiran mereka tentang peran mahasiswa dalam kehidupan bermasyarakat. Relevansi simulasi ini tidak hanya terletak pada bentuknya, tetapi pada bagaimana nilai-nilai keberanian, kepekaan, dan kebebasan berpikir itu terus dijaga dan diterjemahkan dalam berbagai bentuk aksi yang sesuai dengan karakter dan pilihan masing-masing mahasiswa.
Penulis: Salwa Nurmedina Prasanti
Editor: Vlea Viorell Indie Princessiella
TAG: #aspirasi #dinamika-kampus #fisip-unair #universitas-airlangga
LPM Retorika FISIP Unair
@lpmretorikafisip
@ngs5967e
@retorikafisipua