» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: .

Liputan Khusus
“Ganyang Patriarki!” Aksi IWD Surabaya 2025 Serukan 55 Tuntutan
20 Maret 2025 | Liputan Khusus | Dibaca 531 kali
“Ganyang Patriarki!” Aksi IWD Surabaya 2025 Serukan 55 Tuntutan: “Ganyang Patriarki!” Aksi IWD Surabaya 2025 Serukan 55 Tuntutan Foto: Dokumentasi Pribadi
Di bawah guyuran hujan, Aksi Massa International Women’s Day Surabaya 2025 menyerukan 55 tuntutan dalam sembilan sektor. Diikuti berbagai elemen masyarakat, IWD Surabaya kali ini kembali menjadi wadah untuk merayakan resistensi terhadap ketidakadilan yang kerap dilakukan pada perempuan, kelompok keberagaman gender & orientasi seksual, dan kelompok marjinal lainnya.

Retorika.id - Rabu (19/03/2025), berbagai elemen masyarakat Surabaya melebur menjadi satu dalam Peringatan International Women’s Day (IWD) Surabaya 2025. Aksi massa melakukan long march yang dimulai di McD Basuki Rahmat, mengarah ke Hotel Tunjungan, dengan titik akhir di Gedung Negara Grahadi Surabaya sebagai titik utama aksinya.

Aksi ini diikuti oleh berbagai elemen masyarakat, seperti buruh dan beberapa organisasi, antara lainnya Amnesty Chapter Unair, Girl Up Unesa, Aliansi Mahasiswa Papua (AMP), dan Cakrawala Sanubari.

Mengusung tema besar “Arek-Arek wani, Lawan Patriarki dan Diskriminasi,”, perayaan Hari Perempuan Internasional di Surabaya kali ini kembali menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengekspresikan resistensi akan konstannya ketidakadilan yang merundungi perempuan, kelompok dengan keberagaman identitas gender dan orientasi seksual, dan kelompok masyarakat marjinal lainnya.

Selain melaksanakan long march, massa aksi IWD Surabaya 2025 juga menegakkan dan menuntut 55 tuntutan dalam sembilan sektor, yaitu kekerasan berbasis gender, pendidikan, inklusivitas, agraria dan lingkungan, pekerja/buruh, demokrasi dan HAM, kesehatan, budaya, serta ekonomi dan sosial.

“Sejak kecil kita sudah disuruh mengikuti sunat perempuan disebutkan untuk menjaga kesucian. Ketika di ruang publik pun ditindas dengan dibuat takut,” ujar Keiza, mahasiswa


Unesa sebagai salah satu massa yang melakukan orasi di depan Gedung Grahadi. Selanjutnya, ia menyatakan bahwa negara patrialis dan kapitalis tidak pernah berpihak pada perempuan. “Mulai dari kasus Marsinah, Papua, warga Pakel, Bara Baraya, Gunung Sari. Negara tidak berpihak kepada perempuan tapi  pemodal. negara tidak memberi sanksi pada pelaku pemodal karena uang. Seniman dibungkam oleh aparat bahkan mendukung patriarkis dan maskulinitas.”

“Perempuan Papua dan aktivis HAM didiskriminasi, diintimidasi, diperkosa, mendapat kekerasan seksual. Semua orang bisa menjadi korban,” ujar Faiza, seorang jurnalis lepas yang juga melakukan orasi. “Perempuan yang seharusnya mendapat perlindungan malah represifitas (mendapat catcall, kekerasan oleh aparat, pembunuhan, dan pemerkosaan). Perempuan mengalami kekerasan ganda dari komunitas lokal dan suaminya yang melakukan KDRT serta aparat yang membunuh dan melakukan pemerkosaan.”

Selain massa aksi yang melakukan orasi di mimbar lepas yang disediakan, beberapa juga melakukan aksi seni, dari teater, monolog, hingga puisi. Salah satu penampilan yang menonjol adalah monolog yang diperankan Sasa. Monolog tersebut menceritakan seorang perempuan yang meninggalkan impian tarinya karena dijanjikan menikah dan memiliki anak oleh seorang laki-laki. Sayangnya, laki-laki tersebut meninggalkannya dengan seorang anak. Perempuan tersebut akhirnya menjadi gila karena ditinggal suaminya padahal sudah rela melepas impiannya dan tidak bisa mengurus anak sendirian. Monolog tersebut mencerminkan realitas sosial di mana beban pekerjaan domestik yang sering kali tidak dihargai dan dipikul secara tidak adil oleh perempuan. 

 

Dalam pelaksanaan IWD kali ini, sesungguhnya terjadi beberapa kendala. long march yang semula dijadwalkan pada pukul 13.00 harus diundur hingga pukul 15.00 WIB karena hujan deras. Tidak hanya itu, massa juga harus melaksanakan long march di bawah kucuran air hujan yang kembali turun tidak lama setelah massa mulai berjalan. 

 

Meskipun begitu, Koordinator Komisi Kajian Perempuan, Anak, dan Keberagaman Gender Amnesty International Indonesia Chapter Unair 2024, Sarah, mengaku bahwa ia tetap merasakan kegigihan dari semangat massa aksi. 

 

“Aku tetap ngerasa kegigihan dan semangat dari teman-teman waktu barisan.” ujar Sarah, yangjuga menerangkan bahwa hujan bukan hambatan untuk melakukan aksi. “Biarpun hujan apapun kendala cuaca tapi teman-teman di sini semuanya berkumpul dan punya satu tujuan yang sama, yaitu untuk menyuarakan isu-isu perempuan.”

 

Selanjutnya, ia menekankan pada urgensitas pemenuhan 55 tuntutan pada Perayaan International Women’s Day di Surabaya kali ini, terutama kekerasan seksual berbasis elektronik, yang baru-baru ini marak sekali terjadi; salah satu contohnya adalah video pengintipan kamar mandi yang disebar-luaskan di kanal Telegram untuk dijual di Surabaya. Selain itu, juga terjadi kekerasan seksual yang dilakukan oleh eks-Kapolres Ngada terhadap anaknya yang juga dijual di situs porno. 

“Dan aku ngerasa bahwa hal ini merupakan tanda bahwa kekerasan seksual maupun kekerasan berbasis gender itu semuanya memang merupakan kekerasan yang struktural dan sistematis,” ujar Sarah lagi. “Kekerasan seksual itu merupakan isu yang membersamai terkait kekerasan terhadap gender, seperti kekerasan lingkungan–maka dari itu kan ada namanya ekofeminisme dan juga kekerasan terkait ekonomi dan sosial, dan banyak lagi.”

Terakhir, Sarah mengungkapkan harapannya supaya kedepannya, kegiatan pergerakan dan aktivisme tidak hanya didominasi oleh laki-laki, namun juga melibatkan ruang aman (safe space) bagi  perempuan.

 

“Juga, aku berharap dengan adanya aksi IWD ini kita bisa belajar bersama terkait isu perempuan dan isu keberagaman gender yang ada, dan aku berharap juga pergerakan ini pada akhirnya tetap sustain dan keberlanjutan,” pungkasnya.

 

Penulis: Naara Nava A.L., Ade Kalya

Editor: Aveny Raisa

 


TAG#aspirasi  #demokrasi  #demonstrasi  #event