
Transformasi digital makin merambah ke berbagai wilayah, termasuk kawasan eks-Karesidenan Besuki dan Lumajang. Di tengah kultur komunal yang kuat, masyarakat mulai bersinggungan dengan sistem pembayaran digital seperti QRIS. Namun, belum semua pasar dan pelaku usaha kecil mengenal atau menggunakan layanan ini. Di sinilah pentingnya pendekatan glokalisasi, membawa teknologi ke tengah kehidupan warga tanpa mencabut akar sosial dan tradisi yang telah berlangsung.
Retorika.id - Transformasi digital tak pernah bisa dibendung. Fenomena ini datang seperti arus sungai selepas hujan besar—deras, cepat, dan membawa serta perubahan ke berbagai sisi kehidupan. Namun, ketika arus itu menyentuh tanah-tanah yang masih subur oleh tradisi, seperti Eks-Karesidenan Besuki (Terdiri dari Jember, Banyuwangi, Situbondo, serta Bondowoso) dan Lumajang, tibalah kita pada pertanyaan: apakah kita akan membiarkan tradisi tergulung oleh gelombang digital, ataukah kita bisa menjadikannya perahu yang mengantar masyarakat menjemput masa depan?
Salah satu wajah nyata dari gelombang digital ini bisa dilihat pada cara masyarakat bertransaksi. Di sinilah Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) hadir bukan sekadar sebagai alat pembayaran. Perkembangannya menjadi simbol konvergensi antara modernitas dan lokalitas. Maka, jika QRIS ingin benar-benar hidup di tengah masyarakat seperti di Besuki dan Lumajang, penerapannya tidak bisa semata-mata dilakukan dari atas—melainkan perlu dibangun bersama dari bawah, melalui pendekatan yang disebut glokalisasi.
QRIS dan Nyatanya Transformasi yang Belum Merata
Sejak diluncurkan oleh Bank Indonesia pada 17 Agustus 2019, QRIS digadang-gadang sebagai jembatan menuju masa depan keuangan digital. Berdasarkan data dari Good Stats yang sebelumnya dirilis oleh Bank Indonesia, pada kuartal I 2025 sudah terdapat 56,3 juta pengguna QRIS dengan total 2,6 miliar transaksi. Hal yang menarik adalah sebagian besar dari penggunanya justru telah merambat ke pelaku UMKM.
Namun, angka nasional kerap menutupi luka-luka kecil di daerah. Di timur Jawadwipa seperti Besuki dan Lumajang, transformasi itu belum berjalan mulus. Masih banyak merchant dan pasar tradisional yang belum mengenal QRIS. Di wilayah ini, tidak sedikit pedagang yang lebih memilih untuk menyimpan uangnya di laci kayu daripada di rekening digital.
Bukan karena mereka tak mau, tetapi karena mereka terbiasa atau belum mendapatkan wacana yang jelas dari pemerintah setempat. Bagi banyak warga, uang tunai adalah hal nyata yang bisa dipegang, dihitung, dan diwariskan secara kasat mata. Mereka hidup dalam kultur yang menekankan tatap muka, saling sapa, dan kepercayaan personal. Hal ini juga secara tidak langsung memberi kesan bahwa bagi mereka, transaksi bukan sekadar tukar barang dan uang, tapi juga peristiwa sosial.
Glokalisasi: Membumikan Teknologi dengan Jiwa
Tradisi
Joachim Blatter dalam artikelnya di Britannica menjelaskan bahwa Glokalisasi adalah terjadinya kecenderungan global dan lokal secara umum maupun khusus dalam sistem sosial, politik, dan ekonomi kontemporer secara bersamaan. Sederhananya, Glokalisasi menjadikan sesuatu yang global terasa akrab di tanah sendiri. Konsep ini menolak gagasan bahwa modernisasi harus selalu mengorbankan budaya lokal. Konsep ini percaya bahwa teknologi bisa menjadi bagian dari tradisi jika saja kita tahu cara menempatkannya. Prinsip inilah yang penting ketika membicarakan soal penerapan teknologi pembayaran seperti QRIS di wilayah seperti Besuki dan Lumajang. Di sini, kehidupan masyarakat tidak bisa dipisahkan dari konteks sosial yang kuat—kultur komunal, kedekatan antarwarga, dan ruang-ruang interaksi yang khas.
Sebagai contoh, kita dapat melihat bagaimana pesantren di banyak daerah—seperti halnya di Besuki dan Lumajang, menjadi pusat kehidupan sosial dan spiritual. Atau bagaimana pasar tradisional bukan hanya ruang berlangsungnya proses jual beli, tapi juga tempat bertukar kabar dan membangun interaksi antarwarga, bahkan warung kopi sering kali juga menjadi ruang informal tempat warga membahas urusan desa, ekonomi, hingga politik. Melihat lanskap sosiokultural yang berlangsung di tengah masyarakat seperti ini, alih-alih menawarkan efisiensi semata, sistem teknologi pembayaran seperti QRIS dalam hal ini perlu mengalami proses perendaman kultural—tidak sekadar disisipkan ke dalam aktivitas ekonomi, tetapi diresapi oleh praktik-praktik sosial yang terlebih dahulu familiar di tengah masyarakat.
Membangun Jalan Glokalisasi QRIS yang Membumi
Langkah yang dapat diambil dalam merancang strategi glokalisasi QRIS adalah melalui edukasi berbasis komunitas. Di daerah-daerah yang masih kental akan tradisionalitas, kepercayaan tumbuh dari kedekatan—bukan dari ruang-ruang atau media yang cenderung formalitas semata. Warga lebih mudah menerima sesuatu yang dijelaskan oleh orang yang mereka kenal, melalui bahasa dan logika yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Karena itu, pengenalan sistem pembayaran digital seperti QRIS lebih efektif jika disampaikan lewat ruang-ruang yang sudah lebih dulu familiar di tengah masyarakat seperti melalui kegiatan rutin di desa, arisan kampung, pengajian, atau pertemuan kelompok tani dan pemuda desa. Di tempat-tempat seperti itu, percakapan berjalan lebih cair dan membumi.
Guna dapat mengimplementasikannya, Mahasiswa KKN, tokoh masyarakat dan komunitas, atau bahkan santri dapat menjadi ujung tombak lokalitas dalam menjembatani dunia digital dengan kebiasaan masyarakat sehari-hari. Bukan karena mereka ahli teknologi, tapi karena posisi sosial mereka memungkinkan munculnya kepercayaan. Sebab yang dibutuhkan bukan sekadar penjelasan teknis, tapi pemahaman yang membumi mengenai apa manfaat sistem ini, bagaimana penggunaannya bisa disesuaikan dengan rutinitas yang sudah ada, dan apa kendala yang mungkin muncul.
Contoh nyata implementasi semacam ini dapat dilihat dari program “Smart Kampung” di Banyuwangi yang telah diluncurkan sejak 2016 untuk menciptakan ekosistem digital dari akar rumput. Selain itu, kita juga dapat belajar dari kebijakan Pasar Digital yang diterapkan di Sleman dan Denpasar. Sejauh ini, baik Jember, Banyuwangi, dan Lumajang telah membangun ekosistem pasar digital yang kian berkembang. Dengan bekal ini, maka tidak menutup peluang agar kemudian Situbondo dan Bondowoso dapat mengikuti jejak mereka lalu membangun sistem ekonomi digital terpadu dan terintegrasi secara kolektif.
Namun sebelum QRIS bisa tumbuh, tanah tempatnya berpijak haruslah subur. Artinya, infrastruktur digital harus diperbaiki terlebih dahulu. Apa guna aplikasi canggih jika sinyal internet tak memadai? Jember yang barangkali dipertimbangkan sebagai kabupaten dengan kecakapan fasilitas publik dan pendidikan yang memadai justru mendera masalah serupa. Berdasarkan data yang dipaparkan, sebanyak 24 desa di Jember hingga kini masih belum tersentuh jaringan internet. Dengan fakta ini, pemerintah daerah harus hadir menyambung jaringan melalui pembangunan menara transmisi sinyal, penyediaan Wi-Fi publik, hingga kemudian dapat memberikan subsidi alat pemindai QRIS untuk UMKM.
Tentunya, langkah-langkah strategis ini tak akan berarti tanpa kolaborasi lintas batas peran. Glokalisasi QRIS harus menjadi agenda bersama pemerintah daerah, Bank Indonesia, perguruan tinggi, organisasi sipil, pelaku seni budaya, bahkan pemuda desa. Mereka mesti duduk satu meja bukan hanya untuk menyusun program, tapi untuk mendengar satu sama lain. Sebab digitalisasi yang hanya dibangun dari atas tidak akan menemukan akar di bumi yang kaya oleh kearifan lokal.
QRIS bukan hanya tentang kecepatan transaksi, QRIS bukan sekadar soal kecepatan transaksi. Lebih dari itu, teknologi ini penting sebagai upaya untuk menyentuh keadilan ekonomi. Bukan hanya tentang efisiensi sistem, tapi juga membuka akses, memberi ruang bagi pelaku usaha kecil, pedagang di pasar desa, atau warung di pinggiran untuk ikut bergerak dalam arus ekonomi digital yang selama ini terasa jauh dari jangkauan.
Dengan glokalisasi, QRIS bisa menyatu dalam arteri dan nadi kehidupan masyarakat. Dari warung kopi di lereng Argopuro, ke ladang tembakau Bondowoso, hingga pasar ikan di pesisir Puger Jember. Di tangan yang tepat, teknologi ini bisa menjadi jembatan dan bukan jurang kesenjangan sosial. Ini adalah momentum bagi Besuki dan Lumajang menulis kisahnya sendiri dalam buku besar ekonomi digital Indonesia.
Referensi:
Ayuningtyas, A. D. (2025, June 2). Transaksi QRIS Tumbuh Hampir 600% pada Kuartal I 2025. GoodStats. https://goodstats.id/article/transaksi-qris-tumbuh-hampir-600-pada-kuartal-i-2025-Wo7Cm
Blatter, J. (2022, February 23). Glocalization | Understanding Global & Local Markets. Britannica. https://www.britannica.com/money/glocalization
Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Lumajang. (2024, January). Inovasi Pasar Digital. E-gallery Lumajang. https://e-gallery.lumajangkab.go.id/main/detail_foto/4320/inovasi-pasar-digital
Megamuslimah, D. S. (2025, May 05). Disnaker Jember Bangun 17 Pasar Digital, Target Serap Ribuan Tenaga Kerja. tadatodays.com. https://tadatodays.com/detail/disnaker-jember-bangun-17-pasar-digital-target-serap-ribuan-tenaga-kerja
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. (2022, March 11). Gandeng Grab Indonesia, Banyuwangi Perluas Pasar Digital UMKM. Kabar Banyuwangi. https://kabarbanyuwangi.co.id/gandeng-grab-indonesia-banyuwangi-perluas-pasar-digital-umkm
Pemerintah Kabupaten Sleman. (n.d.). Dukung Percepatan Digitalisasi Pasar, Bupati Buka “Gempar Sleman”. slemankab.go.id. https://slemankab.go.id/dukung-percepatan-digitalisasi-pasar-bupati-buka-gempar-sleman/
Pemerintah Kota Denpasar. (2022, April 10). Gencarkan Transformasi Pembayaran Sistem Digital Pemkot Denpasar Bersama Bank Indonesia Kembali Lakukan Sosialisasi Program SIAP ORIS di Pasar Tradisional Galang Ayu. denpasarkota.go.id. https://www.denpasarkota.go.id/berita/gencarkan-transformasi-pembayaran-sistem-digital-pemkot-denpasar-bersama-bank-indonesia-kembali-lakukan-sosialisasi-program-siap-oris-di-pasar-tradisional-galang-ayu
Wirawan, O. A., (2025, June 24). 24 Desa di Jember Termasuk Area Blank Spot. beritajatim.com | Portal Berita Jawa Timur Hari Ini. https://beritajatim.com/24-desa-di-jember-termasuk-area-blank-spot
Kontributor: Banyu Bening Winasis
Editor: Aveny Raisa
TAG: #ekonomi #sosial # #
LPM Retorika FISIP Unair
@lpmretorikafisip
@ngs5967e
@retorikafisipua