
Akun-akun “kampus cantik” banyak berseliweran di media sosial dan sudah ada di hampir setiap kampus, termasuk Universitas Airlangga (Unair). Hal ini menuai banyak pro dan kontra. Ada yang melihat akun-akun ini hanya sebagai hiburan semata, ada pun yang menganggap akun Unair Cantik sebagai bentuk objektifikasi terhadap perempuan dan menekankan standar kecantikan yang tidak adil.
Retorika.id - Media sosial seperti TikTok, Instagram, dan Twitter tanpa kita sadari dapat sangat memengaruhi kehidupan sosial mahasiswa. Pengaruh yang diberikan di antaranya berasal dari konten-konten yang membawa berbagai dampak, baik positif maupun negatif. Positifnya, konten-konten tersebut dapat menjadi hiburan bagi mahasiswa. Namun, terkadang konten di media sosial dapat berdampak negatif bagi beberapa di antara mereka tanpa diketahui.
Salah satu bentuk konten yang paling sering menjadi perbincangan karena kontroversinya adalah akun “kampus cantik”. Hampir semua universitas di Indonesia memiliki akun kampus cantik yang secara reguler mengunggah foto dan video mahasiswi yang dianggap “cantik” sesuai dengan permintaan yang diajukan melalui pesan Instagram atau TikTok. Di Unair, terdapat beberapa akun Unair Cantik di berbagai media sosial. Beberapa mahasiswa merasa bahwa akun Unair Cantik hadir untuk sebatas hiburan saja. Bahkan, N, salah satu mahasiswi yang foto dirinya pernah diunggah di akun Unair Cantik, mengungkap bahwa dia merasa senang foto dirinya masuk ke salah satu akun tersebut.
“Kebetulan saya tau (tentang keberadaan akun Unair Cantik) saat foto saya di-repost di akun Unair-nya, dikasih tahu kating. Dari situ saya lihat, senang di-post di akun Unair Cantik. Dari situ selalu muncul terus di FYP jadinya,” katanya.
“Kalau dari sudut pandang saya, saya menganggap itu hiburan
aja, Kak,” lanjut N.
Namun, ada juga beberapa pihak yang merasa bahwa keberadaan akun-akun tersebut menekankan standar kecantikan baru terhadap mahasiswi. Imbasnya, rasa percaya diri mereka berkurang karena adanya syarat-syarat tertentu untuk mencapai titel “cantik” yang memang terbentuk baik secara implisit maupun eksplisit dari lahirnya akun-akun tersebut. Akan tetapi, pandangan yang ada ditepis oleh N.
“...setelah ditelusuri nggak ada tuh kriteria untuk bisa masuk akun Unair Cantik, semua bisa masuk dengan gampang,” ungkap N.
Meski beberapa mahasiswa melihat akun-akun kampus cantik hanya sebagaihiburan ringan, tidak bisa dimungkiri bahwa fenomena ini membawa persoalan yang jauh lebih serius. Di ranah akademik yang seharusnya mendorong kapasitas intelektual, kreativitas,dan prestasi, kehadiran akun-akun tersebut justru menggeser pusat perhatian menuju sesuatuyang dangkal, yaitu penampilan.
Tanpa disadari, algoritma media sosial mendorong konten berbasis wajah dan estetika jauh lebihkeras dibanding konten edukatif atau diskusi akademik. Implikasinya, kampus yang seharusnyamenjadi ruang intelektual perlahan berubah menjadi ruang komodifikasi visual. Mahasiswa bukan lagi dipandang dari argumentasi, gagasan, atau kontribusi, melainkan dari seberapa layak wajah mereka muncul di beranda dunia maya dan khalayak umum.
Meskipun N menyebut tidak ada kriteria khusus untuk masuk akun “Unair Cantik”,absennya kriteria formal bukan berarti tidak ada kriteria lain yang lahir. Justru di sinilahmasalahnya, standar itu terbentuk secara simbolik. Sesuatu yang muncul di beranda publik secara berulang itulah yang dianggap ideal. Apapun yang ditampilkan terus menerus akan membentuk persepsi baru tentang siapa yang memiliki kapabilitas sebagai mahasiswa kampus tersebut.
“...menurutku dampak yang lebih luas lagi, kita perlu menyadari kalau misalnya akun-akun kayak gitu, memperluas stereotip atau beauty standards. Sebenarnya kan yang perlu dicatat adalah beauty standards itu one for all (satu standar berlaku untuk semua). Jadi, ini akan sangat berpengaruh kepada masyarakat-masyarakat lain yang tidak masuk ke dalam beauty standards itu,” ucap Olivia, salah satu anggota Kementrian Pergerakan dan Kesetaraan Gender (KPKG) BEM FISIP Unair.
Fenomena ini berpotensi memperkuat bias-bias kelas, warna kulit, bentuk tubuh, dan estetika tertentu yang meski tidak diucapkan secara halus, tetapi tetap menjadi rujukan baru. Mahasiswa yang tidak merasa masuk kategori pun terdorong membandingkan diri, bahkan ketika mereka tidak pernah berminat tampil di akun tersebut. Hasilnya adalah tekanan psikologis yang sering dianggap remeh hanya karena dibungkus dalam label hiburan.
“Menurutku, meskipun awalnya ditujukan sebagai hiburan, tidak bisa dianggap enteng. Harus ditanggapi dengan lebih serius karena konten-konten tersebut mengindikasi adanya beauty standards yang harus diikuti oleh perempuan,” ucap Dian Olivia, menekankan adanya dampak negatif dari keberadaan akun-akun tersebut.
Pada akhirnya, Olivia menyebut akun kampus cantik sebagai hiburan dianggap terlalumenyederhanakan dampak yang diberikan. Hiburan seharusnya tidak merusak kepercayaan diri, tidak menormalisasi standar kecantikan, dan tidak menciptakan hierarki sosial baru di lingkungan pendidikan.
Olivia juga menekankan pentingnya menyuarakan dampak destruktif dari keberadaan akun-akun tersebut. “Menurutku, mengangkat tema ini untuk artikel berita sudah baik karena memperbanyak artikel-artikel, spread awareness, dan membuka diskusi-diskusi mengenai topik tersebut untuk memperluas pengetahuan mahasiswa Unair merupakan salah satu cara kita untuk memperbaiki masalah tersebut,” ujarnya.
Penulis: Ganisha Adentia Pramesti, Hana Rifa Zahirah, Hanum Rihhadatul Aisya, Prana Meutia Paramitha, Zainiya Larasati Nuzuliyah
Editor: Vlea Viorell Indie Princessiella
TAG: #gagasan #gender #sosial #
LPM Retorika FISIP Unair
@lpmretorikafisip
@ngs5967e
@retorikafisipua